« Home

Semarang Undercover 4

Semarang Undercover (4)
Striptease Panggilan, Terobosan Baru Prostitusi Semarang
Fenomena wabal di Salatiga memang tak begitu merebak seperti ciblek di Semarang, memang tuidak mudah bagi awam untuk mengenal atau masuk ke lingkungan mereka. Namun beruntung bagi I-plus, lewat seorang rekan kami bukan cuma bisa mendapatkan wabal yang betulan mahasiswi sebuah PTS terkemuka di Salatiga, namun kami juga takperlu mengeluarkan dana besar untuk mengetahui seberapa hebat layanan seorang wabal.
Mulanya kami mulai putus asa, karena sampai jam 11 malam belum berhasil mendapatkan target. Apalagi Salatiga kalau malam tidak terlalu ramai, jarang banget ada sosok cewek melintas di jalanan. Maklum sepinya luarbiasa.
Karena dah hopeless banget, kita mutusin buat pulang, eh pas lewat di depan Zonakita nampak sosok cewek yang parasnya sopan banget. Yakin dengan kode-kode yang biasa digunakan oleh wabal, akhirnya kita memutuskan untuk turun, kenalan bentar dan speak-speak dikit, namanya E**in.
Singkat cerita dia meminta imbalan Rp 200 ribu buat short time tapi setelah tawar menawar yg cukup alot...hehe, akhirnya turun juga menjadi Rp 100 ribu.
Akhirnya jalan deh kita bertiga, cari minuman dulu di daerah Pasar Sapi. Karena bingung cari tempat, hotel-hotel juga udah pada tutup, akhirnya kita putusin buat pakai jasa rumah kontrakan semalam, lokasinya nggak jauh dari Pasar Sapi.
Gilanya rekan I-plus, selama perjalanan ni temen malah udah melancarkan aksi ke E**in, mereka duduk berdua di belakang...serasa jadi sopir beneran dah, mana si E**in selama di mobil cuman pake bra doang!
Nyampek di rumah yang dituju, tak perlu basa-basi rekan I-plus langsung tancap gas. Sekedar iseng, timbuk pikiran setan buat bikin video mereka berdua. Tapi lama-lama nanggung, eh....pucuk dicinta ulam pun tiba, si E**in malah nawarin buat threesome, bahkan dia nantangin kami berdua untuk mencoba ‘jalan belakang’ (anal seks-Red).
Rekan saya di bawah, E**in di tengah dan I-plus dari belakang. Gila...ni udah kayak film-film bokep Amrik!!! Saat itu juga terlintas pikiran, barangkali E**in tergolong kategori maniak seks.
Ternyata dugaan I-plus nggak salah, usai pertarungan threesome, E**in mengaku kalau seeminggu nggak nglakuin seks bertiga, badannya serasa nggak enak. “Betulan kok Mas, lantaran kalian emang hot punya..ya ngapain mesti bayar? Aku cuman having fun kok,” tuturnya saat memberikan nomer ponselnya dengan harapan bila bete, E**in meminta kita berdua untuk menemaninya.
Mengaku kelahiran Banyubiru 21 tahun lalu, E**in juga mengaku kalau gejolak seksnya muncul selalu tiba-tiba. “Kayak tadi itu, betulnya aku dah mau tidur, tapi badan nih rasanya mulai nggak karuan, akhirnya aku putusin keluar...dan ketemu kalian kan?” tuturnya genit dan meminta kami untuk menemaninya sekali lagi.
Sebelum pagi menampakkan keperkasaannya, kami berpisah dan langsung menuju Semarang dengan menyisakan satu fenomena baru dalam benak I-plus, meski tak begitu populer ternyata Wabal Salatiga lebih menghargai seks sebagai aktivitas ketimbang pemenuhan materi, lain betul dengan ciblek-ciblek Semarang.
Seksi Dance
Sepekan setelah kejadian di Salatiga, I-plus menerima pesan singkat dari nomer 02470270xxx, isinya ‘Mas..bantuin saya dong. Order menari sepi banyak operasi...saya kini freelance striptease. Hub saya.pls’
Tak perlu hitungan menit, I-plus menghubungi nomer tersebut yang dijawab suara lembut seorang gadis yang mengaku berusia 20 tahun dengan ukuran 170/50 dan ukuran bra 36, namanya (sebut saja) Lemi, tanpa basa-basi menawarkan jasa striptease panggilan dengan durasi 8 lagu house dan imbalan Rp 120 ribu.
Didasari penasaran I-plus membuat janji keesokkan harinya di rumah kenalan I-plus di kawasan Manyaran, tentu saja dengan persetujuan dia terlebih dahulu. Singkatnya Lemi bersedia menari di hadapan kami berempat, namun dia menegaskan tidak ada layanan seks sama sekali.
Esoknya dengan sebuah taksi, Lemi datang ke lokasi komplit dengan sebuah mini componya. Memakai jaket jeans mini dibalut celana jeans ketat, Lemi yang berkulit putih bersih lebih mirip seorang model ketimbang penari bugil. Basa-basi sebentar, mulailah Lemi menekan tombol mini componya.
Seakan berpacu dengan beat-beat cepat lagu Radja yang telah dibuat house, Lemi mulai meliuk-liuk di depan kami. Masuk lagu ketiga, busana yang dikenakan tinggal pasangan bra dan cd berwarna pink. Biarpun sudah sering melihat adegan seperti ini, namun mau tak mau hasrat kelaki-lakian mulai timbul. Apalagi jarak Lemi dengan kami demikian dekat.
Sesuai janji Lemi memang akhirnya telanjang bulat tanpa apa-apa di tubuhnya, belum cukup itu dia pun menghampiri kami satu persatu...duduk di pangkuan kami...bahkan menuntun tangan kami untuk bergerilya di lekuk-lekuk tubuhnya. Fantastik, decak kami berempat!!
Tak terasa 70 menit lebih Lemi menular ‘awan panas’nya ke ruangan yang mestinya dingin karena AC nya disetel maksimal, Lemi menghentikan tariannya berbarengan dengan usainya lagu TTM milik Ratu.
Dengan masih bertelanjang bulat dan berkeringat deras, Lemi menawari layanan oral seks dengan tambahan imbalan menjadi Rp 200 ribu. Ketiga rekan I-plus setuju untuk merogoh kocek lebih, namun I-plus memilih menonton saja. Maklum, I-plus kurang suka dengan layanan seks oral sebagai puncak.
Sebelum pulang, Lemi sempat bercerita bahwa dia dulunya adalah penari latar, namun karena sepi order dia sempat menjadi penari seksi di beberapa kafe. Namun sejalan dengan tutupnya ebebrapa kafe langganannya, Lemi mencoba ‘hijrah’ ke Jakarta. Namun apa lacur, di kota Metropolitan tersenyum, Lemi malah pernah merasakan pengapnya ‘hotel prodeo’ gara-gara tertangkap saat menari striptease di sebuah kafe di bilangan Ancol.
“Akhirnya saya memilih kembali ke Semarang, sempat bertemu rekan-rekan dan kami punya ide untuk menjalan striptease panggilan. Ini mesti dibedakan, kami bukan wanita panggilan lho Mas,” tegas Lemi yang mendapatkan nomer ponsel I-plus dari rekannya yang dulunya mantan model.
Dari pengakuan Lemi, I-plus mendapatkan beberapa nomer ponsel yang menyediakan layanan serupa. Bahkan ada tiga nomer yang bisa menarikan tarian sejenis, lesbi maupun gay dan tarian lawan jenis.
“Untuk yang terkahir agak mahalan Mas. Mereka mintanya per orang sekitar Rp 100-200 ribu. Tapi harga segitu sebanding kok dengan tontonan yang didapetin, rekan saya itu nantinya selain menari pasutri juga kadang meminta bantuan penontonnya untuk ikut ambil bagian,” ungkap Lemi yang kini tercatat sebagai seorang mahasiswi sebuah PTS di bilangan Bendan Ngisor.
Dengan hadirnya Lemi dan beberapa rekannya, I-plus menarik kesimpulan bahwa dengan makin sulitnya memperoleh uang di era yang serba sulit ini, membuat orang melakukan terobosan-terobosan baru di berbagai bidang, termasuk juga di bisnis prostitusi.
Dan terobosan-terobosan tersebut tak berhenti sampai disini, karena I-plus juga mendapati fenomena baru therapy seksual akal-akalan. Apa lagi ini? Mau tahu? Ikuti laporan INFOPlus di edisi mendatang.

Mas... ikutan liputan dong...

:)

yoko-telkom.
(yang kemarin ngajar blog di pemuda)

mas bisa kasih info tuh stripteaser ga? tlg email ke ellipsis_83@yahoo.com
thanks berat

mana nih no telpnya?? boleh dunk ikutan....

Gan minta nomor hp striper itu donk..
nanti ane tulis di blog juga pengalaman ane deh..
ni email ane
menang110mb@gmail.com

mas minta no nya yg pnari itu donk,,mksih

Boz bisa minta nope kdua cew itu g?cew salatiga ma yg semarang?thanxz b4...
Sinyonyow5@gmail.com

Post a Comment

Previous posts

Archives