Thursday, October 12, 2006

Semarang Undercover (6)
Geliat ABG-ABG ‘ATM’
Seorang gadis remaja berdiri di antara antrean orang-orang yang akan melakukan transaksi di sebuah ATM di salah satu mal di kawasan Peterongan, Semarang. Sebut saja, Rinda, nama gadis yang baru berusia 16 tahun.
Rinda bukan ingin mengambil uang atau bertransaksi apapun, namun antre di depan ATPM adalah cara gadis ABG satu ini dalam menggaet mangsanya. "Yang mengambil uang di sini pasti banyak uangnya," kata Keke yakin. Ia menuturkan, teman-temannya juga melakukan cara itu.
Di Semarang dan beberapa kota di Jateng seperti Salatiga, Solo dan Jogja (sebelum dilanda gempa-red), gadis ABG semacam Rinda, disebut ABG ATM (kalau di Tasikmalaya, Jabar, juga disebut ‘anyanyah’.
Melihat gaya Rinda, sepintas sangat polos. Namun di balik kepolosannya itu, putri ketiga dari empat bersaudara yang kini yng masih duduk di bangku kelas III salah satu SLTP swasta di Semarang ternyata menyimpan banyak pengalaman yang tidak kalah bersaing dengan wanita tuna susila (WTS) yang sudah kenyang pengalaman, termasuk pengalamannya berkencan dengan pria dari berbagai kelompok usia.
Kalau melihat latar belakang keluarganya, Rinda tidak semestinya terjun ke dunia prostitusi ABG. Karena sang ayah adalah mantan pejabat dinas di Semarang yang kini beralih profesi menjadi pengusaha sukses di sebuah kota di Jateng.
Rinda mulai terjun ke dunia prostitusi ABG sejak kelas II SLTP, ia memiliki wajah dan postur tubuh yang tidak kalah menariknya dengan artis-artis ABG yang sering kita lihat di televisi.
Sepintas Rinda mirip artis bom seks Sarah Azhari yang terlibat kasus foto porno. Wajar apabila banyak orang yang ingin tahu, apa sebenarnya yang melatarbelakangi gadis cantik sampai terjun ke dunia prostitusi.
Tarif Khusus
Rinda menceritakan pengalamannya mulai dari serbaketakutannya menghadapi dunia di luar rumahnya, hingga timbul keberanian melayani pria hidung belang. Bahkan, Rinda tidak menyadari bahwa dirinya kini sudah menjadi wanita penghibur papan atas dan menjadi gadis rebutan pria berduit.
Bermula dari kecemburuannya terhadap wanita simpanan bapaknya, umur si wanita tersebut tidak jauh dari umurnya. Rinda sempat tergoncang, apalagi setelah mengetahui orang tuanya bercerai, terlebih yang melatarbelakangi perceraian orang tunya itu setelah ibunya mengetahui ayahnya berselingkuh dengan wanita lain. Setelah orang tuanya bercerai, Rinda memilih tinggal bersama ayahnya, karena Rinda masih membutuhkan biaya sekolah.
Kecemburuan Rinda semakin menjadi, setelah ia sering melihat ayahnya berduaan dengan teman kencannya, ditambah pernah memergoki ayahnya sedang bermesraan dengan pacarnya di ruang tamu. Lalu lama-kelamaan Rinda merasakan ada gejolak seks di tubuhnya, ditambah dengan keseringan nonton VCD porno bersama teman-teman sekolah.
Semula Rinda menolak saat diminta menceritakan pengalamannya terjun ke dunia prostitusi, "Sudahlah, saya jadi menyesal menuturkan segala pengalaman saya, tapi tidak apalah itu kan pengalaman yang tidak mungkin terlupakan,'' kata Rinda dengan nada suara sedikit gugup pada I-plus. Kegugupan Rinda sangat kelihatan sekaligus mencerminkan bahwa dirinya belum lama terjun ke dunia prostitusi.
Rinda meminta agar tidak ditulis nama lengkapnya. ''Maklum ayah saya sering baca koran dan pengalaman saya ini takut dibaca keluarga saya di rumah,'' kata Rinda.
Rinda juga berkencan dengan pria asing. Kencan terakhirnya dengan pria setengah baya warga negara Jepang yang baru dikenalnya dua hari di pusat perbelanjaan.
Meski usianya masih muda belia, Rinda lebih suka berkencan dengan usia jauh di atasnya. Menurutnya, berkencan dengan pria setengah baya sangat menyenangkan serta tidak banyak menuntut. Berbeda jika berkencan dengan usia muda. Menurutnya, selain rewel juga banyak menuntut yang aneh-aneh.
Rinda menuturkan, berkencan dengan pria warga negara asing lebih mendalam. Pria asing jika berkencan seolah dirinya dianggap istrinya sendiri. ''Malah ujung-ujungnya, pria asing tersebut ingin menikahi saya,'' akunya seraya tertawa.
Di Semarang khususnya di mal-mal besar kecil, memang tempat nongkrong pada ABG. Mereka biasanya menikmati hidangan kafetaria yang banyak bertebaran di pusat perbelanjaan tersebut.
Tarif mereka bervariatif mulai dari Rp 150.000 hingga Rp 500.000 sekali kencan. Tidak hanya itu, mereka juga memasang tarif khusus bila kencan tidak sampai berhubungan badan.
Misal bila hanya ingin memegang payudara, si pria iseng akan dikenakan tarif Rp 15 ribu, paha Rp 10 ribu, berciuman Rp 25 ribu, dan memegang alat vital Rp 50 ribu.
Para pelacur ABG yang ini tidak hanya nongkrong di pusat perbelanjaan melainkan di sejumlah cafe, hotel, maupun di beberapa kafe waralaba. Mereka mulai melakukan aksinya sekitar pukul 21.00 WIB. Cara mereka untuk menarik perhatian pria hidung belang sangat beragam.
Ada yang memberikan nomor handphone-nya ke pegawai hotel, makan berlama-lama, pura-pura makan lalu meninggalkan dompet atau tas (yang isinya hanya kartu-kartu nama) bahkan ada di antara mereka ada yang langsung menunggu di lobi hotel. Cara demikian sering dilakukan oleh ABG yang sudah memiliki germo resmi. Tarif mereka antara Rp 150 ribu sampai dengan Rp 300 ribu.
"Itu bukan harga mati, apabila si pria bisa merayunya harga untuk berkencan tidak sampai demikian, bisa saja gratis atau hanya membayar kamar hotel. Jadi gimana kitanya,'' ujar salah seorang karyawan hotel di kawasan Semarang atas.
Cara lain yang lebih unik yang banyak dilakukan oleh para pelacur ABG yakni dengan berpura-pura belanja atau sekadar mengambil uang di ATM yang terletak di dalam mal, cara unik ini tidak bisa dilakukan oleh pelacur ABG sembarangan, karena dengan cara tersebut hanya pelacur ABG berparas cantik dan berpenampilan glamour yang bisa melakukannya. Dengan cara demikian, pria yang berhasil mereka pancing kebanyakan orang menengah ke atas.
Sejak merebaknya sejumlah mal dan departement store di Semarang, para pelacur ABG semakin merajalela. Kebanyakan para ABG masih berstatus pelajar (SLTP dan SMU) serta mahasiswi. Jumlah mereka akan makin bertambah kala ujian sekolah maupun menjelang musim liburan datang.
Semak-Semak
"Mas jangan disini, di semak-semak saja ya...please," cerita Adrian, eksekutif muda pemilik sebuah Resto di Semarang kepada I-plus saat menuturkan petualangannya dengan ABG ATM.
Menurutnya, ABG-ABG tersebut jarang yang bisa diajak melanjutkan 'acara' disebuah hotel. Mereka merasa tidak aman masuk ke hotel dengan pakaian sekolah.
Seperti yang dialaminya saat mengencani ABG ATM yang dikenalnya di sebuah Mal di kawasan Simpanglima. Cewek 17 tahun itu saat didesak untuk berkencan di hotel berbintang lima di kawasan tersebut menolak dengan alasan biasa berkencan di balik pohon. "Saya tidak biasa di hotel. Di tempat lain juga boleh, pokoknya jangan di hotel. Di semak-semak juga tidak apa-apa, tidak ada yang lihat. Kan cuma sebentar," kata cewek yang dari seragamnya adalah siswi sebuah SMUN di Semarang. Para ABG ATM yang ‘murni’ kebanyakan paling takut bila diajak kencan di hotel maupun penginapan setempat. Kalaupun bersedia, maunya hotel atau penginapan di Bandungan, sekitar satu jam dari Semarang bila menggunakan mobil pribadi.
Adrian membenarkan bahwa ABG yang bisa diajak kencan banyak berkeliaran menjelang masa ulangan umum. Menurut Adrian, banyaknya ABG yang 'turun ke jalan' pada saat-saat seperti itu karena mereka membutuhkan uang untuk keperluan sekolah.
Adrian mengakui bahwa umereka untuk membiayai kehidupan sehari-hari memang mencukupi, tapi bila kebutuhan uang mulai agak besar seperti menjelang ulangan umum atau ujian, mereka hampir tidak berdaya.
Bicara soal ABG ATM, I-plus yang tak sengaja berkenalan dengan Sinta di sebuah warung waralaba di mal kawasan Setiabudi, bertutur, dia memang sudah mempersiapkan sedemikian rupa agar terhindar dari 'malapetaka' kehamilan. Mulai dari tissue KB, pil KB sampai suntik triwulanan dilakoninya.
“Aku emang nggak suka kencan dengan kondom...rasanya gimana gitu. Lagian meski aku butuh uang, tapi kenikmatan ya mesti aku dapetin!” tuturnya yang membuat I-plus geleng-geleng kepala, mengingat kata-kata itu keluar dari bibir anak gadis yang belum genap berusia 17 tahun.
Diperdagangkan
Namun Sinta menolak anggapan bahwa dirinya adalah pelacur, meski era sekarang banyak sekali gadis remaja di kota ini yang seusianya karena terlalu sering melakukan seks bebas, kemudian terjerumus menjadi pelacur. Menurut Sinta, dia tahu persis nasib ABG-ABG semacam dirinya di Semarang lebih terhormat dan aman ketimbang di beberapa kota lain di Indonesia.
Dia mencontohkan gadis seusianya yang berprofesi sama di Kalimantan Timur banyak ABG menjadi pelacur karena ulah sejumlah oknum aparat. Para ABG itu, tadinya merasa aman bila berhubungan dengan mereka, yang di sana dikenal dengan istilah ‘kombet’. Para kombet, awalnya melindungi mereka dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, tapi ujung-ujungnya para gadis itu dijual.
Seperti sahabat dekatnya Inge, juga berhenti dari SLTA saat mengetahui ada janin bayi dalam perutnya, 'hadiah' dari seorang oknum aparat kepolisian dari satuan provost. Pacaran tetap berlanjut, hingga menyeberang ke Tawan, Malaysia.
Di Tawan, janinnya digugurkan. Sementara sang pacar bolak-balik Tawan-Tanjung Selor karena masih berdinas di Polres Bulungan. Singkat cerita, menurut penuturan sahabtnya semasa SD tersebut, Inge dijual kepada para hidung belang di Tawan, berkisar seharga 200 hingga 250 ringgit Malaysia atau berkisar Rp 360 ribu hingga Rp 450 ribu untuk setiap kali kencan.
Jaringan penjualan gadis ABG ke Tawan cukup rapi. Pada pedagang gadis lengkap dengan mata-mata dan tukang pukulnya. Mereka umumnya orang Indonesia yang memiliki kebebasan keluar masuk ke negara tetangga itu. Harga seorang wanita, dihargai cukong 4.000 ringgit atau Rp 7,2 juta (satu ringgit Rp 1.800).
Tapi saat ini Inge sudah lepas dari cengkeraman kombet. Inge melarikan diri dan lolos kembali ke kampung halamannya, ketika para tukang pukul berpesta, menikmati hasil penjualan wanita. Selain ditempatkan di hotel-hotel di Tawan, juga ada yang dijual lagi ke cukong di Singapura, Sandakan, dan Kinabalu.
Menurut pengakuan Inge, memikirkan melarikan diri dari sarang maksiat, muncul saat Inge sedang haid namun dipaksa melayani tamu. Karena Inge menolak, ia lalu dipukuli dan dicaci maki, perlakuan yang sama juga dialami wanita-wanita lainnya.
Inge belum berani mengungkapkan siapa-siapa oknum yang terlibat dalam penjualan wanita-wanita, dia hanya menjelaskan di antara rekan-rekan wanitanya waktu masih di Tarakan, Tanjung Selor, maupun asal Pulau Jawa, rata-rata terbujuk dengan janji dapat kerja dengan gaji besar. Hal itu dibuktikan si pembawa dengan membelikan pakaian mewah dan pehiasan emas.
Namun setelah berada di sana, pakaian dan perhiasan dipreteli untuk diambil lagi. Hasil kencan dengan tamu juga diambil. Mereka dilarang kirim surat ke keluarga.
Dari penuturan sahabat dekatnya inilah yang membuat Sinta selalu enggan berkencan keluar Provinsi. “Paling jauh saya hanya mau diajak ke Jogja saja. Lebih jauh...no way! Ya karena takut mengalami hal seperti Inge,”tuturnya sambil terus memainkan jarinya di handphone Nokia keluaran terbarunya.
Sinta memang mengaku, biaya hidupnya selain untuk sekolah yang terbesar justru untuk menjaga penampilan serta pemenuhan pulsa handphonenya. Mau tahu berapa sebulannya Sinta menghabiskan rupiah untuk pulsa...ada di kisaran Rp 1-2 juta.
“Habis mau gimana Mas...kalau order sepi kan kita perlu nelpon langganan yang kadang ada di lain Provinsi. Bisa kebayang kan berapa pulsa yang abis...tapi kalau deal ya impas dan ada lebihannya kok,” tuturnya kenes.
Sinta memang hanya satu dari sekian ABG kita yang mulai menjadi PKI (Perempuan Kurang Iman). Mereka, karena tuntutan era serba instan ini, ingin menuai mimpi hanya dalam hitungan jam. Trus bagaimana membedakan dan taktik menggaet ABG ATM ini kendati dana mepet? Ikuti di I-plus edisi depan.bersambung

Tuesday, October 10, 2006

Semarang Undercover 5


Semarang Undercover (5)
Layanan Seks Berkedok Therapis
Beberapa waktu silam disebuah majalah terbitan Surabaya, hampir separuh halamannya berisikan iklan therapi seks. Mulai dari yang memperpanjang, memperkeras, mengatasi frigid, membuat tahan lama, dsb dsb. Tentunya layanan ini dengan memasang mahar yang tak murah dan dari ratusan pengiklan tersebut, mencuat nama Mak Erot yang konon memang ampuh membuat ukuran alat vital laki-laki makin panjang.
Lantas apa hubungannya dengan yang I-plus temui belakangan ini di Semarang dan bebrapa kota di Jawa Tengah? Ternyata di beberapa koran lokal banyak iklan koloman yang menawarkan layanan serupa, apalagi dengan adanya embel-embel ‘Bisa Dibuktikan!’.
Berangkat dari rasa penasaran, I-plus mencoba mengontak beberapa nomer yang terpampang di sebuah harian Semarang. Hasilnya....iklan tersebut nayatanya hanya akal-akalan sejumlah wanita penjual kenikmatan dengan variasi tampilan baru, namun tetap berakhir UUS ‘Ujumg Ujungnya Seks’!
Sebut saja Mira, dia menawarkan jasa therapi dan konsultasi mengenai problematika alat kelamin pria di tempat prakteknya di kamar 318 sebuah Hotel di kawasan Semarang atas. Tarifnya murah hanya Rp 75 ribu sekali therapi. “Mas bisa langsung buktikan lho...” tawarnya dengan nada kenes dari ponselnya bernomer 081575325xxx.
Singkat cerita I-plus menuju target, tanpa basa-basi begitu sampai tujuan mbak Mira meminta I-plus melepas pakaian bagian bawah. Dengan cekatan dia memijat memakai minyak yang dikatakan dari hewan melata di pedalaman Kalimantan. Namun dalam hati I-plus yakin betul, dari bau dan warnanya adalah minyak dari binatang bulus (sejenis kura-kura), yang selama ini diyakini bisa mengencangkan (maaf) buah dada wanita.
Diselingi tanya jawab dan basa-basi sekitar 40an menit, mbak Mira mengakhiri therapinya. “Bagaimana mas, ada perbedaan? Kalau mas ndak percaya bisa kok dibuktikan langsung.”
Awalnya I-plus masih tak mengerti maksud ucapan wanita yang mengaku berasal dari Pekanbaru itu. Namun akhirnya I-plus sadar setelah mbak Mira mengontak melalui telpon kamar dan datanglah seorang wanita bertubuh seksi, sebut saja Novi.
Dari promo yang diberikan mbak Mira, Novi bisa melayani all time dan semua variasi yang diperlukan sebagai pembuktian therapi yang dilakukannya, tentu saja dengan tambahan tarif yang telah disepakati. Untuk menghapus rasa penasaran terpaksa I-plus menambah satu lembar uang seratus ribuan ke mbak Mira. Hasilnya....I-plus mengakui ketajaman analisa mbak Mira. Kendati tahu bahwa therapi yang dilakukannya hanya sekedar kamuflase.
Dan dari penelusuran I-plus menemukan tempat-tempat yang biasa dipakai praktek di antaranya Hotel S dan AA di bilangan Sriwijaya, kemudian Hotel I di jalan Mt Haryono, Hotel E dan NP di kawasan Semarang atas. Bahkan di Hotel AA, ada sekitar 4 wanita therapis yang melakukan praktek terselubung disana.
Dari pengakuan pelayan hotel, mereka memang tak bisa melarang atau mengadukan praktek yang dilakukan para therapis tersebut. Karena mereka melakukan prosedur yang benar dalam sewa menyewa kamar, mulai dari pembayarannya sampai identitas yang lengkap.
“Bagaimana lagi Mas. Mereka itu legal dalam artian tamu hotel, tapi masalah ilegal tidaknya yang mereka lakukan, selama tidak merugikan atau membuat gaduh tamu lainnya...kami tak bisa melarang,” tutur salah seorang pelayan di Hotel AA.
Jutaan Rupiah
I-plus menyoroti kiprah para wanita penawar kehangatan tak bisa lepas dari alasan klise masalah sulitnya mencari biaya hidup. Dari beberapa wanita yang beroperasi di Semarang adalah Melati, meski baru berusia 19 tahun namun ternyata dia memiliki kepedihan hidup yang mestinya belum pantas dilakoni gadis seusianya.
Kali ini yang ingin dibahas bukan soal pijat memijatnya. Setelah ngobrol banyak dengan dia, dia bercerita mengenai how much they spend money for their living.
Yangg bikin gw shock adalah, dia mengaku bahwa dalam seminggu, dia mengeluarkan uang sebanyak Rp. 1 juta hanya untuk keperluan membeli sepasang baju atau pakaian tidur. Dan itu dia lakukan rutin setiap minggu dalam sebulan. Dia juga bilang bahwa dia hanya beli pakaian yg bermerek, even for lingerie. So, Rp 4 juta dalam sebulan hanya untuk keperluan pakaian.
Belanjanyapun tidak jarang dia di Matahari atau Citraland Mall.
Lantas bagaimana dengan keperluan sehari-hari yang lain mengingat dia sudah punya anak berusia balita. Sedikit kilas balik ke lokasi eksekusi, pada saat dia menawarkan ++, dia sama sekali tidak pernah memasang harga. She just do it...
Ada lagi Yuni yang dobel profesi, sebagai pemijat ++ juga menjadi ciblek -- cilik-cilik betah melek-- atau sekarang juga dikonotasikan ‘cilik-cilik iso digemblek’. Yuni terpaksa melakoni dunia gelap untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya dan menyekolahkan adiknya.
Awalnya, sebagian besar ciblek di Semarang mengaku terbentur masalah ekonomi. Namun setelah menjadi ciblek, mereka tidak lagi sekadar mengejar kebutuhan ekonomi, tetapi mulai mengejar materi lebih.
Mereka mengatakan asyik menjadi ciblek, karena mudah memperoleh uang banyak. Mereka bisa beli baju yang bagus-bagus, handphone terbaru, dan perhiasan. Akhirnya mereka enggan untuk berhenti.
I-plus juga pernah mewawancarai Noni (18), seorang ciblek di Simpang Lima. Ketika berusia 10 tahun, Noni sudah mulai mengenal pria. Saat itu ia disuruh ”turun ke jalan” oleh ibu kandungnya, mengikuti jejak kakak perempuannya.
”Saya diharuskan menyetor sejumlah uang setiap hari,” cerita Noni mengenang masa lalunya. Tidak terlalu membekas dalam ingatannya, bagaimana pertama kali ia bergaul dengan pria.
Karena kenyang pengalaman di lapangan, Noni kemudian menjadi ”bos”‘ sejumlah ciblek di Semarang. Oleh anak buahnya ia dipanggil ”mami”. Sebagai ”mami” muda, Noni juga melayani bila ada pria yang mengajak.
”Biasanya saya tawarkan anak-anak. Tapi sering kali pria memaksa agar saya yang menemani. Ya, terpaksa saya layani untuk menyenangkan pelanggan,” tuturnya.
Ciblek yang menjadi anak buah Noni, tidak mangkal di mal atau di tempat-tempat hiburan seperti klub malam, karaoke, atau diskotek. Mereka keluyuran di jalan-jalan atau mangkal di kafe-kafe serta warung tenda yang menyediakan teh poci, wedang jahe serta minuman lain yang hangat-hangat di seputar Simpang Lima.
Kalau ada konsumen yang memesan, harganya bervariasi antara Rp 100.000,00 - Rp 200.000,00. Namun yang bertarif Rp 25.000,00 - Rp 50.000,00, juga disediakan.
**
SALAH satu anak ”asuhan” Noni yang tergolong imut-imut adalah Wati (12). Menurut gadis yang ”bau kencur” ini, dunia pelacuran dianggapnya lebih dapat memberikan hasil yang lebih besar dan lebih cepat, dibandingkan jika dirinya harus ngamen atau berjualan koran.
Sudah dua tahun Wati berada di ”kegelapan malam”. Awalnya, saat usia l0 tahun, ia diperkosa tetangganya ketika tidur siang. Ketika kasus itu disampaikan kepada ibunya, Wati justru dimarahi habis-habisan. Belakangan baru diketahui bahwa ternyata ibunya menerima imbalan sejumlah uang dari tetangganya tersebut.
Mulai saat itulah, Wati turun ke jalanan. Bahkan, baru beberapa minggu ”buka praktik”, Wati sudah mampu membeli pakaian bagus, kosmetik, serta seabrek kebutuhannya layaknya gadis-gadis belia.
Saya jadi berpikir..., jadi beberapa dari mereka yg berprofesi sebagai pemijat freelance, walaupun tak setiap hari mendapat ‘korban’, hidup mereka sebenarnya gak susah-susah juga ya? Bukanlah yang kesulitan keuangan sehingga harus terjun di dunia ++ seperti itu.
Atau mungkin kali ini I-plus salah penilaian juga. Apakah kebutuhan seorang wanita biasapun seperti itukah? Maksudnya dalam segi pengeluaran dana utk keperluan sehari-hari?
Dengan hasil ratusan ribu setiap malam, apakah para penjaja kenikmatan ini bisa hidup layak ataukah mereka malah terjerumus dalam pergaulan dengan narkoba atau jenis pekat lainnya? Ikuti terus penelusuran I-plus di edisi mendatang.bersambung

-------------------------------------------------------------------------
Beriklan Di Internet
Pingin tahu kayak apa iklan layanan seks di beberapa alamat situs internet yang terbilang akurat? Ini salah satunya yang sempat I-plus temui.
“Alo teman-teman....
hi..hi ..hi ..hi gw mau nawarin diri nih.... tp gw jd bingung ya gimana nawarin dirinya.
Intinya gw bisa di ajak Check In! bisa di ajak susah juga heheh becanda deng!.
SErvice yg gue bisa : ML, Oral , Anal , Cum IN Mouth , Mandi kucing , Mandi Bareng , Mandi Kambing ( eh ga ada yahh ), Telen Sperma (perna juga sih dulu ..ama siapa ayo?), Variant style of Sex . Intinya All I can do tergantung elo ngerayunya..tp jgn lupa loh SAFE SAX !
Gue ini orgnya FLEKSIBLE, JUTEX ( KLo lo duluan yg bikin gw jutex ) , BAIK..jd lebih baik lg klo telpon aza
KE : 081380330082 ( call me before 11 pm ).
Ciri2 gue : 150cmn / 43 kgs(skrg) / bra 34 / Balcksweet skin / BRown hair / Idung Mancung / Kt org mIrip Arab ..pdhal gue Asli Jawa-Jambi/.
Gue ga sk di Bandingin ma cewek2 lain..krn setiap org punya kelebihan & kekurangan msg2 ..apa lg klo bkn Sex APPeal.
To know me kunjungi :
http://pg.photos.yahoo.com/ph/simungile/my_photos
(KLIk 2x trss temen2 Klik lg yg ada bacaannya "KLIK DISINI " ... ini pic Asli gue ..liat aza background nya rata2 di Htl PCG sama di KMR Gue ...di foto tampak terlihat putih krn cahayanya terang bkn dibuat2..tp aslinya blacksweet skin)
or Add me di Fs : enakbuateloh@yahoo.com or enakbuatkamu@yahoo.com.
Soal Harga dll nya di di bicarakan di telpon aza deh.
TO Booking telp 3 jm sblmnya atau lbh baik lg telp 1 hr sblmnya ( tp jrg yg kayak gini.. ) utk gw PRepare (krn gw bkn Robotyg saat lo butuh saat itu jg gw bisa lsg datang ...bth waktu )
Oh ya satu lg m teman2 klo mau ngobrol / berbicara sama aku di telpon awalnya lebih baik To the point aza...nah nanti klo udah di tengah baru deh boleh basa basi. TRs Nelponnya jgn pake Nomer rumah / ktr ya ==) klo yg begini suka nya basa basi aza, alias pengen tau duang !!

Semarang Undercover 4

Semarang Undercover (4)
Striptease Panggilan, Terobosan Baru Prostitusi Semarang
Fenomena wabal di Salatiga memang tak begitu merebak seperti ciblek di Semarang, memang tuidak mudah bagi awam untuk mengenal atau masuk ke lingkungan mereka. Namun beruntung bagi I-plus, lewat seorang rekan kami bukan cuma bisa mendapatkan wabal yang betulan mahasiswi sebuah PTS terkemuka di Salatiga, namun kami juga takperlu mengeluarkan dana besar untuk mengetahui seberapa hebat layanan seorang wabal.
Mulanya kami mulai putus asa, karena sampai jam 11 malam belum berhasil mendapatkan target. Apalagi Salatiga kalau malam tidak terlalu ramai, jarang banget ada sosok cewek melintas di jalanan. Maklum sepinya luarbiasa.
Karena dah hopeless banget, kita mutusin buat pulang, eh pas lewat di depan Zonakita nampak sosok cewek yang parasnya sopan banget. Yakin dengan kode-kode yang biasa digunakan oleh wabal, akhirnya kita memutuskan untuk turun, kenalan bentar dan speak-speak dikit, namanya E**in.
Singkat cerita dia meminta imbalan Rp 200 ribu buat short time tapi setelah tawar menawar yg cukup alot...hehe, akhirnya turun juga menjadi Rp 100 ribu.
Akhirnya jalan deh kita bertiga, cari minuman dulu di daerah Pasar Sapi. Karena bingung cari tempat, hotel-hotel juga udah pada tutup, akhirnya kita putusin buat pakai jasa rumah kontrakan semalam, lokasinya nggak jauh dari Pasar Sapi.
Gilanya rekan I-plus, selama perjalanan ni temen malah udah melancarkan aksi ke E**in, mereka duduk berdua di belakang...serasa jadi sopir beneran dah, mana si E**in selama di mobil cuman pake bra doang!
Nyampek di rumah yang dituju, tak perlu basa-basi rekan I-plus langsung tancap gas. Sekedar iseng, timbuk pikiran setan buat bikin video mereka berdua. Tapi lama-lama nanggung, eh....pucuk dicinta ulam pun tiba, si E**in malah nawarin buat threesome, bahkan dia nantangin kami berdua untuk mencoba ‘jalan belakang’ (anal seks-Red).
Rekan saya di bawah, E**in di tengah dan I-plus dari belakang. Gila...ni udah kayak film-film bokep Amrik!!! Saat itu juga terlintas pikiran, barangkali E**in tergolong kategori maniak seks.
Ternyata dugaan I-plus nggak salah, usai pertarungan threesome, E**in mengaku kalau seeminggu nggak nglakuin seks bertiga, badannya serasa nggak enak. “Betulan kok Mas, lantaran kalian emang hot punya..ya ngapain mesti bayar? Aku cuman having fun kok,” tuturnya saat memberikan nomer ponselnya dengan harapan bila bete, E**in meminta kita berdua untuk menemaninya.
Mengaku kelahiran Banyubiru 21 tahun lalu, E**in juga mengaku kalau gejolak seksnya muncul selalu tiba-tiba. “Kayak tadi itu, betulnya aku dah mau tidur, tapi badan nih rasanya mulai nggak karuan, akhirnya aku putusin keluar...dan ketemu kalian kan?” tuturnya genit dan meminta kami untuk menemaninya sekali lagi.
Sebelum pagi menampakkan keperkasaannya, kami berpisah dan langsung menuju Semarang dengan menyisakan satu fenomena baru dalam benak I-plus, meski tak begitu populer ternyata Wabal Salatiga lebih menghargai seks sebagai aktivitas ketimbang pemenuhan materi, lain betul dengan ciblek-ciblek Semarang.
Seksi Dance
Sepekan setelah kejadian di Salatiga, I-plus menerima pesan singkat dari nomer 02470270xxx, isinya ‘Mas..bantuin saya dong. Order menari sepi banyak operasi...saya kini freelance striptease. Hub saya.pls’
Tak perlu hitungan menit, I-plus menghubungi nomer tersebut yang dijawab suara lembut seorang gadis yang mengaku berusia 20 tahun dengan ukuran 170/50 dan ukuran bra 36, namanya (sebut saja) Lemi, tanpa basa-basi menawarkan jasa striptease panggilan dengan durasi 8 lagu house dan imbalan Rp 120 ribu.
Didasari penasaran I-plus membuat janji keesokkan harinya di rumah kenalan I-plus di kawasan Manyaran, tentu saja dengan persetujuan dia terlebih dahulu. Singkatnya Lemi bersedia menari di hadapan kami berempat, namun dia menegaskan tidak ada layanan seks sama sekali.
Esoknya dengan sebuah taksi, Lemi datang ke lokasi komplit dengan sebuah mini componya. Memakai jaket jeans mini dibalut celana jeans ketat, Lemi yang berkulit putih bersih lebih mirip seorang model ketimbang penari bugil. Basa-basi sebentar, mulailah Lemi menekan tombol mini componya.
Seakan berpacu dengan beat-beat cepat lagu Radja yang telah dibuat house, Lemi mulai meliuk-liuk di depan kami. Masuk lagu ketiga, busana yang dikenakan tinggal pasangan bra dan cd berwarna pink. Biarpun sudah sering melihat adegan seperti ini, namun mau tak mau hasrat kelaki-lakian mulai timbul. Apalagi jarak Lemi dengan kami demikian dekat.
Sesuai janji Lemi memang akhirnya telanjang bulat tanpa apa-apa di tubuhnya, belum cukup itu dia pun menghampiri kami satu persatu...duduk di pangkuan kami...bahkan menuntun tangan kami untuk bergerilya di lekuk-lekuk tubuhnya. Fantastik, decak kami berempat!!
Tak terasa 70 menit lebih Lemi menular ‘awan panas’nya ke ruangan yang mestinya dingin karena AC nya disetel maksimal, Lemi menghentikan tariannya berbarengan dengan usainya lagu TTM milik Ratu.
Dengan masih bertelanjang bulat dan berkeringat deras, Lemi menawari layanan oral seks dengan tambahan imbalan menjadi Rp 200 ribu. Ketiga rekan I-plus setuju untuk merogoh kocek lebih, namun I-plus memilih menonton saja. Maklum, I-plus kurang suka dengan layanan seks oral sebagai puncak.
Sebelum pulang, Lemi sempat bercerita bahwa dia dulunya adalah penari latar, namun karena sepi order dia sempat menjadi penari seksi di beberapa kafe. Namun sejalan dengan tutupnya ebebrapa kafe langganannya, Lemi mencoba ‘hijrah’ ke Jakarta. Namun apa lacur, di kota Metropolitan tersenyum, Lemi malah pernah merasakan pengapnya ‘hotel prodeo’ gara-gara tertangkap saat menari striptease di sebuah kafe di bilangan Ancol.
“Akhirnya saya memilih kembali ke Semarang, sempat bertemu rekan-rekan dan kami punya ide untuk menjalan striptease panggilan. Ini mesti dibedakan, kami bukan wanita panggilan lho Mas,” tegas Lemi yang mendapatkan nomer ponsel I-plus dari rekannya yang dulunya mantan model.
Dari pengakuan Lemi, I-plus mendapatkan beberapa nomer ponsel yang menyediakan layanan serupa. Bahkan ada tiga nomer yang bisa menarikan tarian sejenis, lesbi maupun gay dan tarian lawan jenis.
“Untuk yang terkahir agak mahalan Mas. Mereka mintanya per orang sekitar Rp 100-200 ribu. Tapi harga segitu sebanding kok dengan tontonan yang didapetin, rekan saya itu nantinya selain menari pasutri juga kadang meminta bantuan penontonnya untuk ikut ambil bagian,” ungkap Lemi yang kini tercatat sebagai seorang mahasiswi sebuah PTS di bilangan Bendan Ngisor.
Dengan hadirnya Lemi dan beberapa rekannya, I-plus menarik kesimpulan bahwa dengan makin sulitnya memperoleh uang di era yang serba sulit ini, membuat orang melakukan terobosan-terobosan baru di berbagai bidang, termasuk juga di bisnis prostitusi.
Dan terobosan-terobosan tersebut tak berhenti sampai disini, karena I-plus juga mendapati fenomena baru therapy seksual akal-akalan. Apa lagi ini? Mau tahu? Ikuti laporan INFOPlus di edisi mendatang.